Inspirational life

"what you think, is who you become"

Renungan: Kita, Bukan Orangtua Malaikat

Renungan: Kita, Bukan Orangtua Malaikat

oleh Yuk-Jadi Orangtua Shalih pada 26 Agustus 2011 jam 7:11

Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Direktur Auladi Parenting School/Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)

Email: inspirasipspa@yahoo.com

http://www.auladi.org

 

Ayah, Ibu…..

Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita

bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua ‘malaikat’

yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak.

Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar,

bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak

itu yang menjadi fokus perhatian.

Artinya, ayah ibu,

sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak,

tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai

dan menyakiti anak-anak kita.

Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak

dapat membuat hati anak terluka.

Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya.

Tubuhnya bisa kesakitan,

tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

 

Ayah, Ibu…..

Karena kita bukan orangtua malaikat,

maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat

yang langsung terampil berbuat kebaikan.

Mereka tengah belajar ayah,

mereka masih berproses Ibu.

Seperti belajar bersepeda,

kadang mereka terjatuh,

kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

 

Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita,

mereka bereksplorasi,

mereka berproses,

mereka mengayuh kehidupan

untuk meraih kebaikan

dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

 

Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku,

sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,

padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

 

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak

dengan cara yang baik.

Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka

akan terus tergerus dari kehidupan mereka.

 

Tetapi Ayah, Ibu,

jika kita menghadapi ketidakterampilan ini

dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan,

mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

 

Ayah Ibu….

Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan:

nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk

yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel,

siramlah ia dengan kesejukan.

Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas

hanya membuat ia makin terbakar.

 

Ayah, Ibu…..

Yakinilah, sifat-sifat negatif anak

hanyalah bagian ‘eksplorasi’ untuk mencari cahaya kehidupan.

jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan,

insya Allah anak-anak kita akan akan menebar cahaya untuk kehidupan.

 

Karena itu ayah, ibu…,

jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak

mampir lagi dalam hidup kita,

kamus yang benar adalah ‘inila uji ketulusan’

bukan kegagalan,

terus belajar tentang kehidupan,

bukan tak berhasil dalam kehidupan.

Belajar, memburu ilmu,

adalah ikhtiar yang kita tuju,

karena sebagian kita ketika menikah

tidak disiapkan jadi orangtua.

 

Jadi, ayah ibu,

mari kita terus belajar,

meskipun telah jadi orangtua: belajar….jadi orangtua.

Andaikan keluarga kita kuat,

insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental

terhadap lingkungan yang gawat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: